AS Roma harus menelan pil pahit di hadapan publik sendiri setelah disingkirkan Torino dengan skor 2-3 pada laga Coppa Italia 2026. Dalam pertandingan yang berjalan terbuka, keras, dan penuh intensitas, Che Adams muncul sebagai pembeda lewat dua gol krusial yang memastikan Granata melangkah ke perempat final tanpa harus melewati adu penalti.
Kekalahan ini bukan sekadar hasil buruk bagi Roma, tetapi juga menjadi alarm keras tentang rapuhnya konsistensi dan manajemen momen krusial di bawah tekanan besar.
Pertandingan Terbuka Sejak Menit Awal
Sejak peluit pertama dibunyikan, duel di Olimpico langsung berjalan dalam tempo tinggi. Roma dan Torino sama-sama menolak bermain aman. Kedua tim tampil agresif, berani menekan, dan siap bertukar serangan.
Roma mencoba mengontrol permainan melalui dominasi bola dan pergerakan antar lini, namun Torino tampil lebih langsung dan efisien. Setiap transisi Granata selalu membawa ancaman nyata ke jantung pertahanan tuan rumah.
Gol pembuka Torino datang sebagai konsekuensi dari garis pertahanan Roma yang terlalu tinggi. Che Adams dengan kecerdikan pergerakan dan penyelesaian klinis membuka keunggulan tim tamu, membungkam stadion yang semula bergemuruh.
Roma Bangkit, Tapi Tak Pernah Benar-Benar Aman
Tertinggal membuat Roma menaikkan intensitas. Serigala Ibu Kota merespons dengan cepat, memanfaatkan lebar lapangan dan pressing tinggi. Gol penyama kedudukan hadir lewat kombinasi cepat di sepertiga akhir, memberi harapan bagi tifosi bahwa laga ini bisa dikendalikan.
Namun, masalah Roma kembali terlihat jelas: ketidakstabilan transisi bertahan. Setiap kali mereka kehilangan bola, Torino selalu punya ruang untuk menyerang balik.
Che Adams kembali mencatatkan namanya di papan skor. Gol keduanya lahir dari situasi yang nyaris identik—Roma gagal menutup ruang, lini tengah terlambat turun, dan Adams menghukum mereka tanpa ampun.
Menolak Adu Penalti, Torino Bermain Tanpa Ragu
Roma sekali lagi mampu menyamakan skor. Pada titik ini, pertandingan terasa seperti berjalan menuju adu penalti. Namun Torino menolak skenario tersebut.
Alih-alih bertahan, Granata justru menaikkan garis tekanan di 15 menit terakhir. Keberanian inilah yang menjadi pembeda. Torino bermain tanpa beban, sementara Roma terlihat mulai ragu, tertekan oleh ekspektasi dan waktu yang terus berjalan.
Gol penentu datang di menit krusial. Kesalahan kecil dalam koordinasi lini belakang Roma dimanfaatkan secara maksimal oleh Torino. Stadion Olimpico terdiam—bukan karena keindahan gol, tetapi karena rasa deja vu: Roma kembali tumbang di momen yang seharusnya bisa mereka kendalikan.
Che Adams, Simbol Efisiensi dan Mentalitas
Di laga yang dipenuhi duel fisik dan tempo tinggi, Che Adams tampil sebagai simbol efisiensi. Dua golnya bukan sekadar soal finishing, tetapi juga tentang membaca ruang, timing pergerakan, dan ketenangan di bawah tekanan.
Sementara Roma memiliki lebih banyak penguasaan bola, Torino memiliki pemain yang tahu bagaimana mematikan lawan di momen penting. Adams melakukan itu dengan sempurna.
Roma Gugur, Pertanyaan Besar Menggantung
Tersingkirnya Roma dari Coppa Italia menimbulkan banyak tanda tanya. Masalah mereka bukan pada kualitas individu, melainkan pada manajemen permainan. Terlalu mudah terbuka, terlalu sering kehilangan fokus, dan terlalu rapuh saat momentum berpindah.
Bagi klub sebesar Roma, kegagalan ini terasa menyakitkan—terlebih terjadi di kandang sendiri dan dalam format gugur yang seharusnya bisa dimenangkan lewat pengalaman.
Ujian Sesungguhnya Menanti Torino
Kemenangan ini membawa Torino ke perempat final, di mana mereka akan menghadapi Inter Milan, pemuncak klasemen Serie A. Tantangan jelas meningkat drastis.
Namun, jika melihat keberanian dan mentalitas yang ditunjukkan di Olimpico, Torino pantas melangkah ke laga tersebut dengan kepala tegak. Mereka bukan sekadar penggembira—mereka datang dengan keyakinan bahwa kejutan bisa berlanjut.
Komentar