Kylian Mbappé bukan lagi sekadar superstar. Ia adalah simbol kekuasaan modern dalam sepak bola elite. Di klub-klub yang ia singgahi, trofi mungkin datang dan gol terus mengalir, tetapi satu pola aneh terus berulang: pelatih jarang bertahan lama. Hingga kini, hanya satu nama yang berhasil melewati badai itu—Luis Enrique.
Daftar “korban” Mbappé terus bertambah, dari Paris hingga Madrid. Pertanyaannya bukan lagi apakah kebetulan, melainkan mengapa pola ini begitu konsisten.
PSG Era Awal: Bintang Muda yang Terlalu Cepat Membesar
Ketika Mbappé bergabung dengan PSG pada 2017–2018, ia masih dianggap sebagai proyek jangka panjang. Namun ledakan performanya terlalu cepat untuk dikontrol struktur klub.
Unai Emery menjadi korban pertama. Meski membawa PSG tampil dominan di liga domestik, kegagalan di Liga Champions dan dinamika ruang ganti membuat posisinya goyah. Emery pergi hanya setelah satu musim penuh bersama Mbappé—awal dari tren yang kelak terasa familiar.
Thomas Tuchel: Final Liga Champions Tak Cukup
Di bawah Thomas Tuchel, Mbappé berkembang menjadi ikon global. PSG mencapai final Liga Champions 2020, pencapaian terbaik klub saat itu. Namun bahkan hasil tersebut tak cukup menyelamatkan Tuchel.
Masalahnya bukan taktik semata, melainkan kontrol internal. Tuchel kerap bersitegang dengan manajemen dan harus menavigasi tim yang semakin berpusat pada Neymar dan Mbappé. Ketika hubungan memburuk, pelatihlah yang dikorbankan. Tuchel bertahan 2,5 musim—terlama, tapi tetap berakhir sama.
Pochettino dan Galtier: Pelatih yang Terjebak di Tengah
Mauricio Pochettino datang dengan reputasi pembangun proyek. Namun di PSG, ia menemukan ruang ganti yang lebih berkuasa daripada bangku cadangan. Mbappé bukan sekadar pemain, tapi pusat gravitasi taktik, pemasaran, dan kebijakan klub.
Pochettino hanya bertahan 18 bulan, lalu digantikan Christophe Galtier, pelatih lokal yang diharapkan bisa “menenangkan” ego bintang. Nyatanya, Galtier juga hanya bertahan satu musim. Hasil domestik tetap baik, tetapi PSG gagal menjawab tuntutan Eropa—dan kembali, pelatih yang disalahkan.
Real Madrid: Ketika Pola yang Sama Terulang
Kepindahan Mbappé ke Real Madrid pada 2024–2025 diharapkan menjadi babak baru. Klub dengan sejarah kuat, presiden dominan, dan struktur yang dianggap lebih stabil.
Namun fakta berkata lain.
Carlo Ancelotti, pelatih paling berpengalaman di Eropa, hanya bertahan satu musim penuh bersama Mbappé. Meski tak sepenuhnya gagal, dinamika tim berubah drastis: sistem harus menyesuaikan Mbappé, bukan sebaliknya.
Penggantinya, Xabi Alonso, bahkan lebih singkat. Pelatih muda dengan ide progresif itu hanya bertahan sekitar 6–7 bulan. Proyek jangka panjang runtuh sebelum benar-benar dimulai.
Mengapa Luis Enrique Bisa Bertahan?
Di tengah semua kekacauan ini, Luis Enrique menjadi anomali.
Alasannya sederhana namun krusial: otoritas penuh. Luis Enrique tak membangun tim di sekitar Mbappé sebagai “raja”, melainkan sebagai bagian dari sistem kolektif. Ia berani mendisiplinkan, memutar posisi, bahkan mengistirahatkan bintang.
Lebih penting lagi, ia mendapat dukungan penuh manajemen. Tidak ada dualisme kekuasaan. Tidak ada pemain yang lebih besar dari proyek.
Masalah Sebenarnya: Mbappé atau Klub?
Menyalahkan Mbappé sepenuhnya terlalu mudah. Ia bukan pelatih yang memecat diri sendiri. Namun jelas, kehadirannya mengubah keseimbangan kekuasaan.
Klub-klub modern sering kali terlalu takut kehilangan ikon global. Akibatnya, pelatih kehilangan ruang untuk membangun otoritas. Ketika hasil tak sesuai ekspektasi, pelatih menjadi korban tercepat.
Bintang Besar, Risiko Besar
Mbappé adalah talenta generasional. Namun sejarahnya menunjukkan satu pelajaran penting:
tanpa struktur kuat dan pelatih berotoritas penuh, bintang sebesar apa pun bisa menjadi sumber instabilitas.
Luis Enrique membuktikan bahwa Mbappé bisa “dikendalikan”.
Yang lain gagal—dan membayar dengan jabatan mereka.
Di era sepak bola modern, satu pertanyaan kini relevan:
siapa sebenarnya yang memimpin tim—pelatih, atau superstar?
Komentar