Mason Greenwood seperti terlahir kembali di Prancis. Bersama Olympique Marseille, pemain Inggris itu menjelma menjadi salah satu penyerang paling produktif dan menentukan di Eropa saat ini. Angka-angka yang ia hasilkan bukan sekadar statistik pemanis, melainkan bukti nyata bahwa Greenwood masih memiliki kualitas kelas dunia.
Dalam 61 pertandingan, Greenwood mencatatkan 41 gol dan 12 assist. Sebuah kontribusi langsung terhadap gol yang membuatnya berdiri sejajar dengan penyerang elite Eropa. Di tengah persaingan ketat Ligue 1 dan tekanan ekspektasi publik, Greenwood justru berkembang—lebih matang, lebih tajam, dan lebih efisien.
Keputusan Berani Marseille yang Terbayar Lunas
Ketika Marseille memutuskan merekrut Greenwood, banyak pihak meragukan langkah tersebut. Bukan karena kualitas teknisnya, tetapi karena reputasi dan masa lalu yang penuh kontroversi. Namun Marseille melihat sesuatu yang berbeda: potensi yang belum habis, bakat yang hanya menunggu panggung yang tepat.
Kepercayaan itu kini terbayar lunas. Greenwood bukan hanya menjadi starter reguler, tetapi juga tulang punggung serangan. Ia hadir sebagai pembeda di laga besar dan menjadi solusi saat Marseille buntu. Dalam sepak bola modern, keberanian mengambil risiko sering kali menjadi pembeda antara klub biasa dan klub ambisius—dan Marseille menang besar kali ini.
Evolusi Peran: Bukan Sekadar Finisher
Salah satu aspek paling menarik dari Greenwood di Marseille adalah perubahan perannya. Ia bukan lagi sekadar winger kanan yang mengandalkan cut-inside dan tembakan kaki kiri. Greenwood kini tampil lebih fleksibel: bisa bermain sebagai second striker, inverted forward, bahkan false nine dalam situasi tertentu.
Kontribusi 12 assist menegaskan bahwa ia telah berkembang sebagai pemain kolektif. Pergerakannya tanpa bola membuka ruang, visi umpannya meningkat, dan keputusan di sepertiga akhir lapangan terlihat jauh lebih matang dibanding periode awal kariernya.
Ini bukan Greenwood yang egois—ini Greenwood yang memahami sistem.
Statistik yang Menempatkannya di Peta Eropa
41 gol dari 61 laga berarti rata-rata satu gol setiap 1,4 pertandingan. Angka itu menempatkan Greenwood di jajaran penyerang paling efisien di lima liga top Eropa. Lebih penting lagi, banyak golnya datang di momen krusial: saat skor imbang, saat tim tertinggal, atau di laga tekanan tinggi.
Ia bukan sekadar predator kotak penalti. Greenwood juga unggul dalam duel satu lawan satu, progresi bola, dan tembakan dari luar kotak. Marseille kini memiliki senjata yang bisa mencetak gol dari berbagai skenario—dan itu membuat mereka jauh lebih sulit ditebak.
Dampak Langsung pada Permainan Marseille
Dengan Greenwood di lini depan, Marseille bermain lebih agresif dan vertikal. Transisi mereka lebih cepat karena Greenwood mampu membawa bola dari tengah ke kotak penalti dengan efektif. Bek lawan dipaksa fokus kepadanya, membuka ruang bagi rekan setim untuk masuk dari lini kedua.
Tak berlebihan jika dikatakan bahwa Greenwood telah mengubah identitas serangan Marseille. Dari tim yang mengandalkan kolektivitas, kini mereka juga memiliki bintang yang bisa menentukan hasil pertandingan sendirian.
Reputasi yang Perlahan Dipulihkan
Di luar lapangan, performa Greenwood juga berdampak besar pada persepsi publik. Sepak bola memang tidak menghapus masa lalu, tetapi konsistensi dan profesionalisme di lapangan perlahan menggeser narasi. Greenwood memilih menjawab keraguan dengan gol, assist, dan kerja keras.
Marseille menjadi tempat ideal baginya: tekanan besar, tetapi tidak sebrutal Inggris. Lingkungan ini memberinya ruang untuk fokus pada sepak bola—dan hasilnya terlihat jelas.
Masa Depan: Kembali ke Meja Klub Elite?
Dengan performa seperti ini, satu pertanyaan tak terhindarkan: berapa lama Marseille bisa mempertahankan Greenwood? Klub-klub besar Eropa selalu mencari penyerang produktif, dan Greenwood kini kembali masuk radar.
Apakah ia akan bertahan dan menjadi ikon Marseille, atau kembali melangkah ke panggung yang lebih besar? Yang pasti, Greenwood sudah membuktikan satu hal penting: bakat sejati tidak pernah benar-benar hilang.
Ia hanya menunggu waktu, tempat, dan kepercayaan—dan di Marseille, semuanya bertemu.
Komentar