Tottenham Hotspur pernah berada di persimpangan sejarah pada musim panas 2013. Klub asal London Utara itu membuat keputusan besar dengan melepas Gareth Bale ke Real Madrid. Nilai transfernya mencapai 85 juta dollar atau setara dengan Rp1,9 Triliun, dan memecahkan rekor dunia saat itu.
Banyak yang percaya, dana segar tersebut akan menjadi titik awal kebangkitan Spurs menuju level elite Eropa. Namun sepak bola jarang berjalan lurus. Alih-alih menggantikan Bale dengan satu bintang baru, Tottenham memilih strategi berbeda.
Mereka memecah uang Bale untuk mendatangkan tujuh pemain sekaligus. Sebuah langkah berani yang saat itu dipuji sebagai revolusi transfer ala moneyball di Premier League.
Sayangnya, eksperimen tersebut justru menjadi salah satu kesalahan terbesar dalam sejarah modern Tottenham.
Kepergian Bale dan Harapan Era Baru
Gareth Bale bukan sekadar pemain bintang bagi Tottenham. Ia adalah simbol kebangkitan klub. Kecepatan, kekuatan, dan gol-gol spektakulernya membawa Spurs kembali diperhitungkan di Inggris dan Eropa.
Saat Real Madrid datang dengan tawaran fantastis, Tottenham sadar mereka tidak bisa menahan Bale. Daniel Levy pun diyakini mampu memaksimalkan dana transfer tersebut. Ekspektasinya jelas: membangun skuad yang lebih kuat, lebih dalam, dan tidak bergantung pada satu pemain.
Keyakinan itu membuat Tottenham menempuh jalur yang jarang diambil klub Inggris kala itu.
Foto : Instagram/midnight.football_.Realita Tujuh Rekrutan dari Satu Bintang
Dengan uang Bale, Tottenham mendatangkan Paulinho, Roberto Soldado, Nacer Chadli, Etienne Capoue, Vlad Chiricheș, Erik Lamela, dan Christian Eriksen. Nama-nama tersebut dianggap cocok dengan filosofi baru klub.
Secara teori, langkah ini masuk akal. Spurs tidak hanya menambal satu posisi, tetapi memperkuat hampir seluruh lini. Dari striker, gelandang bertahan, playmaker, hingga bek tengah.
Banyak pengamat memuji Tottenham. Mereka dinilai cerdas, efisien, dan visioner. Namun sepak bola tidak dimainkan di atas kertas.
Realita di Lapangan yang Tak Sesuai Harapan
Musim demi musim berjalan, hasilnya jauh dari ekspektasi. Roberto Soldado yang dibeli mahal gagal menjadi mesin gol. Paulinho tampil inkonsisten dan tak pernah benar-benar cocok dengan ritme Premier League.
Capoue dan Chiricheș tak mampu memberi stabilitas. Chadli memang sempat produktif, tetapi tidak cukup konsisten. Lamela menunjukkan determinasi tinggi, namun cedera dan performa naik turun membuat potensinya tak sepenuhnya mekar.
Dari tujuh nama tersebut, hanya satu yang benar-benar bersinar.
Eriksen, Satu-Satunya Keberhasilan Nyata
Christian Eriksen menjadi pengecualian besar. Gelandang asal Denmark itu berkembang menjadi otak permainan Tottenham. Kreativitas, visi, dan kontribusi golnya menjadikan Eriksen pilar utama Spurs selama bertahun-tahun.
Ia bukan sekadar rekrutan sukses, tetapi simbol bahwa Tottenham sebenarnya punya kemampuan merekrut pemain berkualitas. Sayangnya, Eriksen hanyalah satu dari tujuh.
Perbandingan dengan Bale pun tak terhindarkan. Spurs kehilangan sosok penentu, pemain yang bisa mengubah laga sendirian.
Ironi: Gagal, Tapi Menjadi Titik Balik
Ironisnya, kegagalan proyek “tujuh pemain Bale” justru membawa pelajaran penting. Tottenham menyadari bahwa belanja besar tidak selalu berarti kemajuan. Struktur, kesabaran, dan keseimbangan skuad jauh lebih krusial.
Kesalahan tersebut membentuk pendekatan baru klub dalam jangka panjang. Tottenham mulai lebih berhati-hati dalam rekrutmen. Fokus pada pemain muda, pengembangan jangka panjang, dan identitas permainan yang jelas.
Fondasi inilah yang kemudian dimanfaatkan Mauricio Pochettino.
Warisan yang Terasa di Era Pochettino
Beberapa tahun setelah kegagalan itu, Tottenham bangkit. Di bawah Pochettino, Spurs menjelma menjadi tim muda, agresif, dan kompetitif. Mereka rutin bersaing di papan atas Premier League dan mencapai final Liga Champions 2019.
Tanpa pelajaran pahit dari era pasca-Bale, mungkin Tottenham tidak akan sampai ke titik tersebut. Kesalahan besar itu menjadi guru paling mahal.
Kini, kisah £85 juta dan tujuh rekrutan itu dikenang sebagai peringatan klasik dalam sepak bola modern. Uang besar tidak menjamin kesuksesan. Dan terkadang, kehilangan satu bintang tidak digantikan oleh tujuh nama, tetapi oleh pemahaman yang lebih dewasa tentang bagaimana membangun sebuah tim.
Komentar