Justin Hubner kembali menjadi sorotan. Bek Timnas Indonesia yang kini memperkuat Fortuna Sittard itu membagikan pengalamannya beradaptasi di Eredivisie Belanda, sekaligus mengungkap perbedaan mencolok antara sepak bola Inggris dan Belanda.
Menurut Hubner, sepak bola Inggris jauh lebih keras dan menuntut duel fisik yang intens. Gaya bermain tersebut membentuk karakternya sebagai bek yang agresif dan tidak mudah dilewati. Namun, ketika pindah ke Eredivisie, ia harus menghadapi tantangan baru: beradaptasi dengan liga yang lebih mengutamakan teknik dan organisasi permainan.
Pengalaman di Inggris membentuk mental bertarung
Hubner menghabiskan masa pembinaan dan awal kariernya di Inggris. Lingkungan sepak bola di sana dikenal keras, cepat, dan penuh tekanan. Setiap duel menjadi pertarungan, terutama bagi pemain bertahan.
“Di Inggris kami bermain lebih keras,” ungkap Hubner. Pernyataan ini mencerminkan bagaimana sepak bola Inggris menuntut bek untuk selalu siap dalam duel satu lawan satu, baik di darat maupun udara.
Mentalitas tersebut membuat Hubner tumbuh sebagai bek yang berani melakukan tekel dan tidak ragu menghadapi penyerang lawan secara langsung.
Eredivisie dan filosofi sepak bola yang berbeda
Ketika melangkah ke Eredivisie bersama Fortuna Sittard, Hubner langsung merasakan perbedaan besar. Sepak bola Belanda lebih menekankan penguasaan bola, pergerakan, dan kecerdasan posisi.
Menurutnya, banyak pemain Eredivisie belum terbiasa dengan gaya bertahan agresif yang ia bawa dari Inggris. Tekel-tekel keras yang dianggap wajar di Inggris, di Belanda sering kali memancing perhatian lebih.
“Eredivisie butuh waktu untuk beradaptasi,” ujar Hubner, menggambarkan bahwa dirinya juga harus menyesuaikan diri dengan standar dan ekspektasi liga.
Kritik sebagai konsekuensi adaptasi
Perbedaan gaya bermain itu membuat Hubner sempat menerima kritik. Ada anggapan bahwa dirinya terlalu keras dan hanya mengandalkan fisik.
Namun, Hubner tidak menutup mata terhadap kritik tersebut. Ia menyadari bahwa sebagai pemain muda, adaptasi adalah proses yang tidak selalu mulus.
Ia menegaskan bahwa dirinya bukan hanya bek yang mengandalkan tekel. Hubner percaya bahwa ia juga memiliki kemampuan membaca permainan dan berkontribusi dalam membangun serangan dari belakang.
Belajar dari Jepang bersama Cerezo Osaka
Selain Inggris dan Belanda, pengalaman Hubner di Jepang bersama Cerezo Osaka juga memainkan peran penting dalam perkembangannya. Sepak bola Jepang dikenal dengan kedisiplinan, kecepatan, dan permainan kolektif.
Di sana, Hubner belajar pentingnya posisi dan timing. Bertahan tidak selalu harus dengan tekel keras, tetapi juga dengan membaca arah permainan dan menutup ruang secara efektif.
Pengalaman ini membantu Hubner menyeimbangkan gaya bermainnya yang keras dengan pendekatan yang lebih tenang dan terukur.
Ketenangan jadi kunci perkembangan
Hubner menyadari bahwa salah satu aspek terpenting yang harus ia tingkatkan adalah ketenangan. Ia mengakui bahwa mengendalikan emosi dan memilih momen yang tepat untuk melakukan tekel akan membuat permainannya lebih efektif.
“Jika saya tetap tenang, tidak ada yang bisa melewati saya,” kata Hubner dengan penuh keyakinan.
Pernyataan tersebut menunjukkan kedewasaan berpikir. Dalam sepak bola modern, bek yang tenang dan cerdas sering kali lebih berharga dibandingkan bek yang hanya mengandalkan agresivitas.
Peran Penting di Fortuna Sittard
Di Fortuna Sittard, Hubner menjadi bagian penting dari lini belakang. Klub ini membutuhkan pemain bertahan yang berani, disiplin, dan konsisten.
Gaya bermain Hubner yang agresif bisa menjadi aset besar, terutama ketika dipadukan dengan pemahaman taktik yang baik. Jika mampu menjaga keseimbangan antara keras dan tenang, ia berpotensi menjadi salah satu pilar pertahanan klub.
Nilai tambah bagi Timnas Indonesia
Pengalaman bermain di berbagai negara memberikan keuntungan besar bagi Timnas Indonesia. Hubner membawa mentalitas sepak bola Inggris, disiplin Jepang, dan pemahaman taktik Belanda ke dalam permainannya.
Bagi Timnas, kehadiran Hubner berarti tambahan kualitas di lini belakang. Ia bukan hanya kuat secara fisik, tetapi juga semakin matang secara mental dan taktik.
Adaptasi yang sedang ia jalani di Eredivisie diharapkan berdampak positif pada performanya bersama tim nasional.
Proses panjang seorang bek muda
Justin Hubner masih berada di awal perjalanan kariernya. Kritik, adaptasi, dan pembelajaran adalah bagian dari proses yang harus ia lewati untuk menjadi pemain yang lebih lengkap.
Perbedaan gaya bermain antara Inggris dan Belanda bukan hambatan, melainkan tantangan yang memperkaya pengalamannya. Dengan terus belajar dan menjaga ketenangan, Hubner memiliki peluang besar untuk berkembang lebih jauh.
Pengakuan Justin Hubner soal kerasnya sepak bola Inggris dan tantangan di Eredivisie memberikan gambaran jelas tentang proses adaptasi yang sedang ia jalani. Bagi seorang bek muda, pengalaman lintas budaya sepak bola ini menjadi modal berharga.
Jika mampu memadukan agresivitas, kecerdasan bermain, dan kontrol emosi, Justin Hubner bukan hanya akan menjadi andalan Fortuna Sittard, tetapi juga aset penting bagi Timnas Indonesia di masa depan.
Komentar