Isu keterlibatan Arab Saudi dalam sepak bola Eropa kembali menguat. Kali ini, sorotan tertuju pada salah satu klub terbesar di dunia, FC Barcelona, yang dikabarkan menjadi target ambisius Pangeran Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS). Rumor tersebut sejatinya bukan cerita baru. Sejak tahun 2023, nama MBS dan dana kekayaan kedaulatan Arab Saudi, Public Investment Fund (PIF), sudah kerap dikaitkan dengan rencana akuisisi raksasa Catalan tersebut.
Meski hingga kini belum terwujud, mimpi itu disebut belum sepenuhnya berakhir.
Ketertarikan Sejak 2023 dan Tawaran Fantastis
Media-media Spanyol sejak dua tahun terakhir melaporkan ketertarikan serius PIF terhadap Barcelona. Ketertarikan itu muncul seiring kondisi finansial klub yang terus berada dalam tekanan berat pascapandemi. Utang Barcelona yang menumpuk menjadi celah strategis bagi investor raksasa seperti Arab Saudi.
Disebutkan bahwa PIF bersedia melunasi seluruh utang Barcelona yang nilainya mencapai sekitar 2,5 miliar euro. Tawaran tersebut tentu terdengar seperti solusi instan bagi klub yang selama beberapa musim terakhir harus melakukan pengetatan finansial, penjualan aset, hingga restrukturisasi kontrak pemain.
Namun, rencana besar tersebut belum menemukan jalan realisasi, terutama karena struktur kepemilikan Barcelona yang unik.
Kendala Status Kepemilikan Barcelona
Tidak seperti banyak klub Eropa lain, Barcelona bukanlah klub milik individu atau korporasi. Barca adalah klub milik anggota (socios), di mana keputusan fundamental seperti perubahan kepemilikan harus melewati mekanisme internal yang rumit dan sensitif secara historis.
Inilah faktor utama yang membuat ambisi Mohammed bin Salman tidak semudah akuisisi Newcastle United pada tahun 2021. Saat itu, PIF sukses membeli klub Premier League tersebut dan langsung mengubahnya menjadi kekuatan baru Inggris. Barcelona, dengan identitas sosial dan politiknya, jelas memiliki dinamika berbeda.
Tahun 2026 Jadi Target Baru
Menurut laporan terbaru dari media hiburan olahraga Spanyol, El Chiringuito, pihak Arab Saudi belum menyerah. Justru, mereka disebut sedang menyiapkan pendekatan baru dengan target tahun 2026 sebagai momentum penting.
PIF dikabarkan siap datang dengan proposal yang jauh lebih besar dan sulit ditolak. Tidak hanya melunasi utang klub, mereka disebut siap menggelontorkan total investasi hingga 10 miliar euro, angka yang setara dengan sekitar Rp 195 triliun.
Investasi ini bukan sekadar untuk menyehatkan neraca keuangan, tetapi juga:
- Memperkuat skuad secara besar-besaran
- Mempercepat modernisasi infrastruktur
- Mengangkat kembali Barcelona sebagai kekuatan dominan Eropa
Mengapa Barcelona Begitu Menarik bagi Arab Saudi?
Barcelona bukan sekadar klub sepak bola. Ia adalah merek global, simbol sejarah, identitas budaya, dan daya tarik komersial luar biasa. Bagi Arab Saudi yang tengah menjalankan proyek besar diversifikasi ekonomi dan citra global, memiliki Barcelona akan menjadi langkah monumental.
Investasi di sepak bola Eropa telah menjadi bagian penting dari strategi jangka panjang Arab Saudi. Dari liga domestik, sponsor global, hingga kepemilikan klub top, semuanya mengarah pada satu tujuan: menjadikan sepak bola sebagai etalase kekuatan baru Timur Tengah.
Barcelona, dengan basis penggemar lintas benua, jelas berada di level tertinggi target tersebut.
Pro dan Kontra di Kalangan Culer
Rumor ini tentu memicu perdebatan panas di kalangan pendukung Barcelona. Di satu sisi, suntikan dana raksasa dapat:
- Mengakhiri krisis finansial berkepanjangan
- Mengembalikan Barca ke era belanja bebas
- Menjaga daya saing dengan klub-klub super kaya
Namun di sisi lain, ada kekhawatiran besar soal:
- Hilangnya identitas klub milik socios
- Ketergantungan pada kekuatan modal asing
- Perubahan filosofi klub yang selama ini dijaga
Inilah dilema klasik antara idealisme dan realitas modern sepak bola.
Kesimpulan: Antara Fantasi dan Kenyataan
Ambisi Mohammed bin Salman untuk membeli Barcelona bukan rumor sembarangan. Dengan rekam jejak PIF dan kekuatan finansial yang nyaris tak terbatas, skenario tersebut secara teori sangat mungkin. Namun, faktor historis, budaya, dan struktur kepemilikan Barcelona membuat realisasinya jauh lebih kompleks dibanding klub-klub lain.
Tahun 2026 disebut-sebut akan menjadi titik krusial. Apakah Barcelona tetap mempertahankan identitas lamanya, atau membuka pintu menuju era baru dengan sokongan dana Arab Saudi?
Yang pasti, selama krisis finansial belum sepenuhnya tuntas, nama Mohammed bin Salman akan terus menghantui masa depan Barcelona.
Komentar