Gaji Tinggi, Prestasi Tidak Selalu Menyertainya
Luiz Milla, pelatih asal Spanyol yang menukangi Timnas Indonesia pada periode 2017–2018, tercatat sebagai pelatih dengan gaji tertinggi, yaitu Rp2 miliar per tahun. Namun, prestasi tim saat itu tidak sebanding dengan besarnya biaya yang dikeluarkan. Hal ini menjadi contoh nyata bahwa gaji mahal bukan jaminan keberhasilan di lapangan.
Kasus Milla menunjukkan bahwa Timnas Indonesia membutuhkan lebih dari sekadar nama besar. Faktor pemahaman terhadap karakteristik pemain, kondisi sepak bola lokal, dan kemampuan membangun tim yang solid ternyata lebih penting daripada angka yang tertera di kontrak.
Shin Tae-yong: Kerja Nyata, Hasil Kontroversial
Shin Tae-yong, pelatih asal Korea Selatan, memiliki dua periode kontrak di Timnas Indonesia. Periode pertamanya dari 2021 hingga 2024 dengan gaji Rp1,1 miliar, dan periode kedua 2024–2027 dengan gaji Rp1,9 miliar.
Shin dikenal bekerja keras membangun fondasi tim, terutama dalam pengembangan pemain muda dan penyusunan strategi jangka panjang. Namun, meskipun kerja nyata terlihat jelas, beberapa keputusan manajemen justru membuatnya dipecat atau dikritik.
Fenomena ini menunjukkan dilema yang sering dihadapi Timnas Indonesia: pelatih yang fokus pada proses pembangunan jangka panjang seringkali tidak sejalan dengan tekanan untuk meraih hasil instan. Shin Tae-yong tetap dianggap sebagai sosok yang membawa perubahan signifikan, meski tidak selalu dihargai secara penuh oleh pihak federasi.
Patrick Kluivert: Nama Besar, Hasil Minimal
Patrick Kluivert, pelatih asal Belanda, datang dengan reputasi internasional yang mentereng. Namun, pada periode 2025–2027 dengan gaji Rp1,5 miliar, ia gagal memberikan hasil yang signifikan bagi Timnas Indonesia.
Kasus Kluivert menjadi pelajaran penting: nama besar di sepak bola dunia tidak otomatis menjamin kesuksesan di konteks lokal. Faktor adaptasi terhadap kultur sepak bola Indonesia, komunikasi dengan pemain, serta pemahaman terhadap kompetisi lokal menjadi sangat menentukan.
John Herdman: Angka Gaji Terendah, Masa Depan Masih Abu-Abu
Pelatih terbaru, John Herdman asal Inggris, dikabarkan akan menerima gaji Rp650 juta untuk kontrak periode 2026–2028. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan pelatih-pelatih sebelumnya.
Belum ada hasil konkret karena Herdman baru mulai memimpin tim. Namun, keputusan untuk menawarkan gaji lebih rendah menimbulkan pertanyaan: apakah strategi federasi saat ini lebih fokus pada efisiensi biaya atau sekadar percobaan mencari pelatih yang tepat dengan biaya minimal?
Analisis Gaji dan Kinerja Pelatih
Dari data gaji lima tahun terakhir, ada beberapa kesimpulan penting:
- Tidak ada korelasi langsung antara gaji tinggi dan prestasi. Contoh nyata adalah Patrick Kluivert dan Luiz Milla.
- Pelatih yang paham kondisi lokal dan bekerja keras lebih bernilai jangka panjang, meski gajinya tidak setinggi nama besar. Shin Tae-yong menjadi contoh utama.
- Keputusan manajemen sering tidak logis, lebih dipengaruhi oleh tekanan publik atau nama besar pelatih daripada kinerja nyata.
Perjalanan Timnas Indonesia dalam menentukan pelatih menunjukkan bahwa sepak bola bukan soal siapa paling mahal, tapi siapa yang benar-benar mengerti dan bisa bekerja dengan karakteristik pemain lokal. Gaji memang penting, tapi bukan indikator utama keberhasilan.
Federasi sepak bola Indonesia perlu menyeimbangkan antara biaya, pengalaman internasional, dan pemahaman terhadap sepak bola lokal agar Timnas tidak hanya sukses sesaat, tetapi juga memiliki fondasi kuat untuk jangka panjang.
Bagi penggemar, penting untuk melihat bukan hanya angka kontrak, tapi juga hasil kerja nyata di lapangan. Timnas Indonesia akan lebih diuntungkan oleh pelatih yang memahami kultur lokal, sabar membangun tim, dan mampu menghasilkan prestasi berkelanjutan.
Komentar